Minggu, 05 September 2010

Personal Statement Tentang Filosofi Pendidikan Seni


Oleh: Irfan Arifin

Defenisi Seni

J

ika di tanya tentang apa itu seni, saya paling sering ragu untuk menjawab. Bukan karena saya tidak tahu pengertian seni, tetapi justru karena banyak pendapat tentang seni yang saya dapatkan sehingga membingungkan jawaban mana yang tepat saya berikan kepada mereka yang bertanya. Seperti seni itu adalah karya cipta manusia, seni adalah suatu bentuk keindahan, seni adalah merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia (pengertian seni menurut Ki Hajar Dewantara), atau seni adalah kegiatan rohani atau aktivitas batin yang direfleksikan dalam bentuk karya yang dapat membangkitkan perasaan orang lain yang melihat atau mendengarkannya (pengertian seni menurut Eric Ariyanto), dan banyak lagi macamnya.

Sangat banyak pengertian seni yang dapat kita berikan kepada orang lain dengan mengandalkan berbagai pendapat para ahli yang bisa didapatkan pada buku-buku atau hanya dengan mengetik kata kunci “seni’ di kolom search pada situs pencari seperti google.

Secara pribadi saya mendefenisikan seni sebagai “kegiatan yang dilakukan oleh manusia dengan mengandalkan otak kanannya”, (saya tidak tahu kalau ada pendapat yang sama dengan saya). Bahkan saya menganggap seni ibarat sebuah agama, dimana semua orang berhak menentukan pilihan menurut apa yang diyakininya. Seperti memilih seni rupa sebagai keyakinannya dalam berkesenian, atau musik, tari, drama, teater, sastra, dan sebagainya. Saya sendiri memilih seni rupa sebagai “agama” saya. Dan ternyata “agama” yang saya pilih didalamnya terdapat berbagai macam aliran seperti realis, naturalis, surealis, ekspresi, abstrak, dan masih banyak aliran lainnya yang masing masing mempunyai pengikut. Bahkan aliran-aliran dalam seni mempunyai tokoh ibarat seorang nabi yang di kultuskan oleh penganut aliran mereka. Sebutlah Leonardo nabinya realisme, Salvador Dali nabinya surealisme, Picasso nabinya dadaisme, Van Gogh nabinya ekspersionisme, dan lain sebagainya.

Kenapa saya sebut seperti agama?, karena apa yang saya pahami dan alami, ternyata dalam berkesenian (terkhusus di Makassar, entah dikota lain) teman-teman seniman seperti melaksanakan sebuah ritual/kepercayaan dengan penuh emosi (emosi yang saya maksud disini seperti, semangat, fanatisme, dan perasaan lainnya yang meluap-luap) yang sangat diyakininya dan malah biasanya sampai mengkultuskan aliran yang mereka yakini adalah gayanya dalam berkesenian. Sebutlah saja contoh ada komunitas yang mengaku mereka pelukis/seniman beraliran realis, dalam melihat sebuah karya, karya-karya yang di yakini bagus dan diakui adalah hanya karya-karya realis. Selain karya realis seperti karya abstrak, karya dekoratif atau ekspresi dan sebagainya dianggap bukan karya yang pantas dan layak dan dianggap tidak selevel. Dan lebih parah lagi ada komunitas yang menggusung aliran yang menurut saya baru yakni Bad Art. Komunitas ini justru menolak mentah-mentah berbagai disiplin ilmu tentang aturan berkesenian.

Berdasarkan pengetahuan yang saya dapatkan seni itu sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan menjadi aktivitas sesuai kebutuhan kehidupan saat itu. Seiring dengan perkembangannya, seni mengalami banyak perubahan. Tiap zaman memiliki masa perkembangannya sendiri. Untuk saat ini begitu banyak hal baru tentang seni yang berkembang, saya pribadi melihat seni sudah tak ada lagi batasannya, di Makasar sendiri semua orang dalam hal ini yang mengaku pekerja seni atau bahasa kerennya seniman berhak mencap dirinya dengan label penganut konvensional, penganut tradisi, penganut kontemporer, penganut postmodern, atau apalah, bahkan ada sebagian yang mengaku dirinya penganut paham Bad Art seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Saya sendiri belum tahu berada dalam penganut/golongan mana, karena semua undangan kegiatan kesenian jika ada kesempatan saya berusaha terlibat didalamnya. Sebagian besar karena keingintahuan saya yang besar tentang seni itu, sebagian besar lagi karena kebanyakan yang terlibat adalah teman-teman sendiri.

Kembali kepada keyakinan saya, bahwa seni adalah “kegiatan yang dilakukan oleh manusia dengan mengandalkan otak kanannya”, maka dalam melakukan ritual “agama” seni rupa, saya semata-mata hanya mengandalkan kemampuan berimajinasi dan berkreasi, sepanjang apapun yang dapat saya buat dan pahami itulah yang saya geluti. Seperti melukis, menggambar potret, membuat ilustrasi, mendesain, mengagumi karya ekspresi dan abstrak, menikmati karya instalasi (walaupun untuk yang satu ini saya masih belum mengerti bagian mana yang harus saya nikmati). Karena saya mengandalkan otak kanan saya secara bebas, maka saya bebas pula memilih untuk tidak memilih di aliran mana saya berada.

Defenisi Pendidikan Seni

D

ari penjelasan mata kuliah beberapa minggu lalu disebutkan ada 3 pendekatan dalam mengajarkan pendidikan seni yang disebut konsep segitiga. Pertama konteks pendidikan berbasis anak yang lebih mengutamakan pada ekspresi kebebasan anak dalam berkreasi, kedua konteks pendidikan berbasis disiplin ilmu dalam hal ini pendidikan seni yang diajarkan merupakan teori-teori seni secara umum yang disertai teknik-teknik kesenirupaan, ketiga konteks yang terkait untuk kepentingan masyarakat yakni pendidikan seni multikultural yang mencakup tentang keragaman sosial budaya masyarakat.

Berbicara masalah pendidikan, saya hanya bisa berbicara dalam konteks sebagai pengamat dan sebatas pengalaman pernah menjadi peserta didik, ini karena latar belakang pekerjaan saya yang bukan seorang guru pegawai negeri sipil atau swasta. Pendidikan seni yang saya ketahui berdasarkan pengamatan dari cerita teman-teman guru yang mengajar dan dari pengalaman bersekolah dahulu.

Jika melihat pengalaman pribadi belajar pendidikan seni, pertama kali belajar tentang seni di sekolah, saya masih ingat saat itu disekolah dasar, guru kesenian waktu itu adalah kepala sekolah yang setiap kali masuk ke kelas pasti memberikan pelajaran menggambar. Dan hampir semua siswa saat itu senang menggambar pemandangan alam, kecuali saya. Saya setiap menggambar pasti menggambar tokoh-tokoh superhero, maklum saat usia SD saya sudah menggemari komik-komik sehingga imajinasi yang keluar setiap menggambar bebas pastilah tokoh-tokoh komik yang saya baca. Komentar guru yang masih saya ingat saat itu, saya di gelari “tukang gambar komik”. Dan dengan kemampuan menggambar yang saya miliki saat itu, saya sering diminta untuk membuat properti-properti pajangan dalam kelas.

Berlanjut ke SMP pelajaran seni yang saya terima masih juga menggambar. Tetapi kali itu saya harus mulai belajar menggambar pemandangan karena guru kesenian saat itu kurang menerima objek lain selain pemandangan. Sampai di SMA, masih tetap sama pelajaran seninya tetap menggambar. Dan saat itu saya sudah mahir menggambar pemandangan.

Dari apa yang saya kemukakan diatas, pengalaman pendidikan seni saya semasa bersekolah sepertinya tidak ada yang berbeda, semuanya menggambar bebas tetapi bebas menggambar pemandangan mulai dari SD, SMP sampai SMA, kecuali semasa kuliah, materi seni yang diajarkan sudah bervariasi. Dengan beragamnya materi teknik menggambar lainnya.

Secara teknis saya cukup senang dengan pelajaran seni yang diajarkan semasa sekolah dulu, mungkin karena saya memang mempunyai bakat dalam menggambar sehingga tidak mempersoalkan setiap kali diminta untuk menggambar. Lain halnya dengan beberapa murid yang mungkin tidak mempunyai minat terhadap pelajaran menggambar, hal itu bisa saja pelajaran yang membosankan. Terbukti dengan ada beberapa murid-murid lain yang minta kepada saya untuk digambarkan. Belajar dari pengalaman tersebut, saya merasa ternyata dengan memberikan pelajaran seni terhadap anak tidak selamanya hal yang menyenangkan dan menarik apalagi buat anak yang memang kurang mempunyai minat dalam menggambar. Mungkin karena tidak adanya komunikasi dari guru dengan memberikan pengantar untuk membangkitkan minat ataupun berupa dasar menggambar dengan teori-teori yang menarik sehingga anak-anak lain merasa menggambar itu menyenangkan.

Berangkat dari pemahaman seni yang saya pahami yakni “kegiatan yang dilakukan oleh manusia dengan mengandalkan otak kanannya”, maka pendidikan seni yang tepat bisa saya defenisikan secara pribadi adalah “memberikan pengalaman yang imajinatif dan kreatif dengan komunikasi aktif antara pendidik dan peserta didik”.

Jadi secara pribadi pendidikan seni menurut saya lebih ideal jika pengalaman berkarya dan berapresiasi dengan mengandalkan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik, dalam hal ini dengan tetap memakai konteks disiplin ilmu namun mementingkan dan memperhatikan kebutuhan dan kesenangan peserta didik, apa yang ia pikirkan dan inginkan. Karena komunikasi yang aktif dengan memberikan disiplin ilmu seni yang secara logika mengajarkan ilmu kesenirupaan sesuai dengan teori pengetahuan dan keterampilan seni, kemudian disertai kebebasan berekspresi para peserta didik, saya merasa dengan model pendidikan seperti yang saya utarakan dapat memberikan manfaat yakni sebagai dasar yang kuat serta modal utama bagi peserta didik dalam mengembangkan diri dan kemampuannya secara kreatif dan terarah dan kemampuan berinteraksinya menjadi aktif.

Tujuan Esensial Pendidikan Seni menciptakan Komunikasi aktif dalam belajar sehingga mampu mengembangkan imajinasi dan kreatifitas peserta didik.

P

engalaman berkarya dan berekspresi secara bebas namun tetap dengan komunikasi aktif antara pendidik dan peserta didik saya maksudkan disini adalah bagaimana mengembangkan imajinasi secara kreatif dengan memberikan disiplin ilmu seni dan tetap memperhatikan keinginan dan kemampuan peserta didik. Peserta didik dalam proses belajarnya diberikan teori dan pengetahuan namun tetap dibebaskan untuk berekspresi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Bukan rahasia lagi jika banyak teman-teman berkarya seni dengan tidak mengandalkan komunikasi antara sesama teman-teman seniman atau masyarakt sebagai klien (sehingga mengabaikan disiplin ilmu). Kebiasaan itu menjadi penyakit sebagian teman-teman bahkan penulis sendiri terkadang dalam berkarya tidak terlalu mengandalkan komunikasi (komunikasi dalam hal ini bisa seperti dialog, interaksi, ataupun sekedar melihat perkembangan yang terjadi), memberikan pengalaman kepada peserta didik dalam mengembangkan imajinasi dan daya kreasinya dengan mengandalkan komunikasi maka peserta didik diharap mempunyai mental sebagai kreator dengan berani mengutarakan ide dan karyanya sehingga dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah dibuatnya.

Pengalaman Belajar Berkarya dan berekspresi secara bebas dengan komunikasi yang interaktif adalah permainan yang menarik.

S

aya teringat dengan sebuah tulisan yang menuliskan bahwa anak-anak ibarat selembar kertas putih dan bersih dimana kita sebagai orang tua atau pendidik tinggal menorehkan lembaran tersebut dengan apa yang kita inginkan. Masa kanak-kanak adalah masa dimana imajinasi dan kreativitas tak terbatas, disitu ada kejujuran, kepolosan dan rasa ingin tahu yang sangat besar. Betapa banyak hal yang disukai pada masa usia kanak-kanak, semua sepertinya bisa dijadikan sebuah permainan. Dalam permainan yang mereka ciptakan ada kreativitas, keterampilan, rasa ingin tahu seorang anak yang terkadang tidak dibatasi oleh rasa malu atau takut.

Seorang peneliti pernah melakukan penelitian, penelitian tersebut menyebutkan puncak kreativitas seorang manusia terjadi pada usia kanak-kanak. Berdasar dari penelitian tersebut pendidikan seni menurut saya adalah wadah atau pelajaran yang tepat untuk menyerap dan membagikan informasi bagi anak yang pada usia itu imajinasi yang luar biasa sedang tercipta. Pendidik seni perlu melakukan pendekatan khusus terhadap anak didiknya melalui komunikasi sambil berkarya sebagai permainan yang menarik karena anak didik pada usianya terkadang masih minim dalam pemahaman dan teori. Olehnya itu dengan melalui pemberian pemahaman secara komunikatif, permainan berkarya dan berekspresi mungkin menjadi menarik untuk disampaikan ke peserta didik. Pendidikan seni yang diterapkan kepada peserta didik seharusnya mampu membuat emosi dan rasa ingin tahu yakni dengan merangsang kreativitas melalui komunikasi yang menarik sehingga peserta didik secara tidak langsung dapat berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya.

Belajar dan Mengajar Tanpa Tekanan Pendekatan dan Metode paling Ampuh.

P

eserta didik adalah sosok individu yang menarik yang harus dihargai, sebagai pendidik tidak ada salahnya dan sebaiknya jika dalam memberikan pendidikan seni kepada peserta didik terkadang kita harus berada dalam sudut pandang peserta didik, bagaimana cara melihat dan berpikir mereka. Apa yang dihasilkan tidak selalu harus bagus menurut disiplin ilmu seni yang diajarkan tetapi bagaimana proses yang mereka lalui dapat membuat peserta didik merasa senang dan puas. satu hal yang saya yakini adalah dalam merangsang kreatifitas peserta didik yakni dengan tidak membatasi dan tidak mendikte ruang gerak dan ruang berpikir mereka, karena itu pendekatan atau metode yang tepat menurut saya adalah memberikan kebebasan untuk berimajinasi dan tidak mengikat dengan aturan yang sudah ada.

Salah satu ciri bahwa peserta didik terlihat kreatif yakni apabila peserta didik sudah mulai bisa berkomunikasi secara aktif terhadap lingkungannya. Semakin kreatif seorang peserta didik semakin sering ia berkomunikasi, hal ini dikarenakan rasa ingin tahu yang besar, imajinasi yang tinggi, dan timbulnya kepercayaan diri dan selalu ingin mendapatkan pengalaman. Meskipun bagi pendidik bukan sesuatu yang baru yang ia berikan kepada peserta didik sebaiknya dalam memberikan pelajaran, komunikasi tetap penting untuk menjaga imajinasi peserta didik dengan memberikan kebebasan dan tidak memberikan tekanan dalam berkarya. Secara psikologis, kreatifitas peserta didik itu timbul dikarenakan tidak adanya ketakutan akan salah, tidak malu untuk gagal sehingga prestasi demi prestasi peserta didik tercipta.

Kreatifitas dan Imajinasi yang tercipta merupakan Penilaian Khusus

P

eserta didik membutuhkan ruang sebagai tempat mengembangkan diri oleh karena itu peserta didik dalam proses belajarnya patut dihargai. Kesenian adalah wadah yang tepat bagi peserta didik dalam mengembangkan diri dengan bermain, berkreasi, berekreasi dan berkarya. Pendidik yang berkomunikasi secara interaktif dengan peserta didiknya diharapkan mampu membawa peserta didik berkelana, berimajinasi dengan kreatifitas yang bebas. Walaupun tidak dipungkiri terkadang dalam prakteknya, pendidik dalam proses belajar mengajarnya mempunyai tendensi khusus dan ikut mencampuri kebebasan dan perkembangan kreatif peserta didik. Bahkan tidak jarang dijumpai peserta didik dipaksa mengikuti selera dan kesenangan pendidik (atau dalam hal ini terkadang pendidik terpaksa mengikuti aturan pendidikan yang dibuat pemerintah). Menyikapi hal ini sudah saatnya seorang pendidik menentang diri sendiri untuk membuat perubahan dalam mencerdaskan pikiran dan rasa peserta didik dengan kesadaran akan perkembangan peserta didik sebagai pribadi yang patut dihargai.

Berbicara mengenai peserta didik sebagai sosok pribadi yang harus dihargai berarti berbicara mengenai penilaian hasil belajarnya. Penilaian yang merupakan evaluasi hasil belajar peserta didik menurut saya tetap penting dilakukan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan kita sebagai pendidik memberikan kemampuan berimajinasi dan kreatifitas. Tetapi penilaian dalam pendidikan seni yang dilakukan terhadap peserta didik berbeda dengan penilaian seperti menilai pelajaran/bidang studi lain yang menentukan sesuatu dengan benar atau salah. Di dalam seni yang saya pahami, saya tidak melihat ada hal yang dapat disalahkan dalam kreatifitas atupun imajinasi yang dibuat oleh peserta didik. Karena kebebasan dalam berkarya seseorang, baik itu anak-anak dalam hal ini peserta didik tidak bisa diukur secara matematis, karena karya yang dihasilkan itu adalah hasil dari kemampuan berpikir individu secara kreatif dan imajinatif yang tidak semuanya sama antara satu anak dengan yang lainnya. Jadi menurut saya penilaian yang tepat untuk mengevaluasi peserta didik adalah cukup dengan melihat dan mengamati sejauh mana kreatifitas yang dimiliki oleh peserta didik. Semakin kreatif, berarti perkembangan peserta didik semakin baik. Peserta didik yang tidak berkembang kreatifitas dan imajinasinya berarti peserta didik tersebut masih perlu bimbingan dan pelajaran khusus atau dianggap memang kurang berbakat dalam bidang seni atau kurang memiliki minat dan kepekaaan terhadap seni. Dari penilaian yang saya uraikan tersebut dapat di simpulkan peserta didik yang perkembangan kreatifitas dan imajinasinya terlihat adalah peserta didik yang berhasil menyerap pelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar